BELAJARLAH! SESUNGGUHNYA TIDAKLAH MANUSIA ITU DILAHIRKAN DALAM KEADAN PANDAI

KUCINGDAN ANJING CERPEN

>> Kamis, 04 Maret 2010


ANTARA KUCING DAN ANJING
Oleh: Faisal Apriyana

''CATY! Ayo Nak bantu ibu di toko,'' teriak ibu dari depan rumah.

''Ogah,'' jawabku singkat. ''Aku pergi main sama teman Ma.''

''Ayo Nak bantu mama, mumpung kamu libur.''

''Nggak mau! Salah sendiri buka toko ikan!'' jawabku dengan kesal. Aku sebel sama mama. Kenapa coba tidak berjualan yang lebih normal sedikit? Kenapa mesti ikan? Aku kan jadi malu. Nanti teman-temanku bilang, ''Lihat itu Caty anak tukang ikan.'' Meski, sebenarnya ikan itu enak juga sih.

''Deby, aku pergi dulu..'' pamitku pada kucingku.

''Hati-hati ya...''

Apa aku tidak salah dengar? Sepertinya baru saja aku mendengar kucingku itu berbicara. Ah, tidak mungkin. Itu pasti hanya halusinasiku saja karena aku terlalu bahagia saat ini. Aku bahagia karena Dog mengajakku keluar. Kami memang dekat, tapi kami tidak pacaran. Belum, lebih tepatnya. Aku sangat menanti-nanti hari di saat dia mengungkapkan isi hatinya. Semoga saja hari ini.

Douglass Iglesiass atau biasa aku panggil Dog sudah menunggu di depan rumah bersama mobilnya. Aku segera ke sana, kemudian masuk ke dalam mobil. Kami pun meluncur menyusuri jalan raya.

Di dalam mobil tidak ada yang mau membuka pembicaraan. Mamang, biasanya aku yang banyak bicara. Namun, saat ini aku sedang memikirkan hal yang tidak-tidak. Aku memikirkan bagaimana kalau nanti kami jadian. Namun, karena kami terlalu lama diam, aku pun tidak tahan.

''Dog.. kenapa kamu tiba-tiba mengajakku keluar?'' tanyaku sedikit ragu. ''Apa kamu mau menembakku?'' Waa! Aku kelepasan bicara! Dasar bodoh! Aku benar-benar malu saat ini.

''Eh? Kenapa kamu pikir begitu? Aku mengajakmu keluar karena belakangan ini kamu terlihat tidak bersemangat. Aku hanya ingin mengembalikan keceriaanmu.''

''Oh begitu...'' Wajar saja, siapa sih yang bersemangat kalo ibunya membuka toko ikan di depan rumah?

Karena aku sudah kelepasan bicara, lebih baik aku teruskan untuk memaksanya mengungkapkan isi hatinya ''Tapi... apakah kamu tidak cinta padaku?''

''Siapa sih yang tidak suka anak kucing seperti kamu.'' Katanya sambil mengelus-elus rambutku. ''Ya, aku mencintaimu, sama seperti aku mencintai teman-temanku yang lain. Kalau selama ini aku baik padamu, itu karena aku ingin orang lain bahagia. Aku tidak pernah berpikir diriku ini akan jadi pacarmu atau pacar siapa pun. Diriku sendiri adalah hal terakhir yang aku pikirkan.''

''Begitu ya... tapi kamu juga harus berusaha mencari sesuatu yang bisa membahagiakanmu. Sebab, ada banyak orang yang memikirkanmu.'' Aku tak begitu paham apa yang dibicarakan Dog, tapi intinya dia tidak mau jadian denganku.

Sifat Dog memang seperti itu. Kalau aku pikir-pikir, sifat kami berdua memang jauh berbeda. Dia selalu mementing­kan orang lain, sedangkan aku sangat egois dan hanya memikirkan diriku sendiri.

Sepulangnya dari jalan-jalan bersama, Dog bukannya membuat pikiran segar, tapi malah semakin suntuk. Aku memicingkan mata untuk mencari korban yang bisa aku ajak curhat. Deby, kucingku yang sempat hilang selama beberapa bulan, lewat di depan kamarku. Langsung saja aku sergap dan bawa masuk.

''Deby, aku mau cerita nih...''

''Akan aku dengarkan...'' Waa!! Aku kaget setengah mati. Ternyata benar Deby bisa bicara.

''Bagaimana bisa kamu berbicara dengan manusia?''

''Bukan aku yang bisa bicara dengan manusia, tapi kamu yang bisa bicara dengan kucing. Mugkin ini karena kamu yang terlewat suka sama kucing. Lihat saja wajahmu yang semakin mirip kucing. Tingkah dan kelakuanmu juga mirip kucing. Tidak heran sekarang kamu bisa mengerti bahasa kucing.''

''Begitu ya...? Ini berarti kamu bisa mengerti kalau aku ajak curhat.'' Setelah itu aku menceritakan soal Dog.

''Apa yang dikatakan Dog itu ada benarnya juga. Bukankah arti dari mencinta itu adalah memberi untuk kebahagiaan orang yang kita cintai tanpa mengharapkan apa pun,'' kata Deby menasihatiku.

''Tidak juga, cinta itu universal. Dan lagi, aku tahu banyak soal cinta sekarang...'' tiba-tiba lima anak kucing masuk ke kamarku...

''Mereka adalah buah hatiku dan aku sangat mencintai mereka. Inilah alasan aku menghilang selama beberapa waktu.''

Berkat perkataan Deby itu, aku menyadari sesuatu. Aku segera beranjak dari kasurku dan bergegas menemui mama.

''Ma, maafkan aku. Selama ini aku egois dan marah pada mama karena mama berjualan ikan di rumah.''

''Yang penting sekarang kamu sudah sadar kalo semua yang mama lakukan ini karena mama cinta padamu. Mama berjualan untuk biaya sekolah kamu dan kakakmu.''

''Iya ma, mulai sekarang Caty janji bakal bantu mama di toko.''

Terkadang sesuatu yang selama ini selalu kita cari-cari ada di depan mata. Aku yang selama ini mengharapkan cinta dari Dog tidak sadar bahwa orang yang sangat mencintaiku ada di dekatku.

Kemudian aku dan mama berpelukan agar Iebih dramatis. ''Ma, kenapa pilih berjualan ikan?''

''Karena kamu dan Deby suka ikan, jadi mama pikir...''

''Ya aku tahu, mama melakukannya untuk membahagiakan aku kan?''

***

Keesokannya, Dog menghentikan aku di sekolah.

''Hai Cat, aku memikirkan ucapanmu kemarin. Hal yang membuatku bahagia adalah kamu Cat. Jadi, apa kamu mau jadi pacarku?'' ujar Dog sedikit ragu-ragu.

''Dog yang baik, sekarang aku berusaha tidak egois dan diriku sendiri adalah hal terakhir yang aku pikirkan. Jadi, aku tidak bisa menjawabnya sekarang.''

''Apa ini artinya aku ditolak?''

''Entahlah, coba saja kau pikirkan sendiri...'' kataku sambil berlalu menjauhinya. ''Tunggu Cat!'' dia mengejarku.

''Tolong! Aku dikejar anjing!'' godaku sambil berlari menghindarinya.

''Hei kucing kecil! Jangan lari!'' Kami berkejar-kejaran bagai kucing dan anjing. (*)

Penulis adalah pelajar SMAN 16 Surabaya

0 komentar:

Poskan Komentar

About This Blog

Lorem Ipsum


Got My Cursor @ 123Cursors.com

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP