Cari uang dan hasilkan profit di internet
BELAJARLAH! SESUNGGUHNYA TIDAKLAH MANUSIA ITU DILAHIRKAN DALAM KEADAN PANDAI
Tampilkan postingan dengan label TASHAWWUF. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TASHAWWUF. Tampilkan semua postingan

>> Minggu, 28 Februari 2010

Jalan Kembali ke Ilahi

Dalam sebuah hadis yang dikenal dengan ‘Hadis Jibril’, Nabi Muhammad mengajarkan tiga dimensi pokok Islam yaitu Islam, Iman dan Ihsan. Kisahnya ketika itu Nabi saw dan para sahabatnya sedang duduk-duduk bersama dalam sebuah majelis, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang mengajukan beberapa pertanyaan kepada Nabi saw. Setelah laki-laki itu pergi, Nabi saw memberitahu sahabatnya bahwa dia adalah Malaikat Jibril yang datang untuk mengajarkan agama (dien) kepada mereka. Sebagaimana terangkum dalam pertanyaan-pertanyaan Jibril dan jawaban-jawaban Nabi, agama Islam memiliki tiga dimensi dasar yakni Islam, Iman dan Ihsan.Ajaran Islam, pada tataran eksternal adalah agama yang memberitahukan kepada umat manusia apa yang wajib dikerjakan dan apa yang tidak boleh dikerjakan. Perbuatan-perbuatan baik dan buruk dijelaskan dan dikodifikasi oleh syariat. Dalam hal ini syariat dapat diumpamakan sebagai ‘tubuh’ Islam, karena ia menjelaskan berbagai amal perbuatan yang dilakukan anggota tubuh, dan karena ia memperkuat kehidupan dan kesadaran tradisi. Perintah-perintah seperti shalat, puasa, zakat dan haji merupakan contoh dari tataran ini.Pada tataran lebih dalam, Islam merupakan agama yang mengajarkan kepada umat manusia bagaimana memahami dunia dan diri mereka sendiri. Dimensi kedua ini berhubungan dengan pikiran. Secara tradisional disebut ‘keimanan’, karena setiap bagian orientasinya adalah obyek-obyek yang berkaitan dengan keimanan –kepada Allah, para malaikat, Nabi dan sebagainya. Pada tataran ini dibutuhkan kajian dan perenungan atas keyakinan-keyakinan Islam

Selanjutnya pada tataran yang paling dalam, Islam adalah agama yang mengajarkan umat manusia bagaimana mentransformasikan diri mereka sendiri agar mereka dapat menciptakan keselarasan dengan sumber segala wujud. Aktivitas dan pemahaman harus difokuskan sedemikian rupa sehingga dapat melahirkan kebajikan dan kesempurnaan manusia. Kebajikan ini inheren dan bersifat intrinsik bagi fitrah manusia, yang diciptakan dalam citra Ilahi. Hal inilah yang merupakan dimensi ihsan dalam Islam. Dalam tradisi para Sufi, dimensi ihsan ini memainkan peran yang sangat penting di samping Islam dan Iman. Dalam hadis itu, Nabi saw mendefiniskan ihsan dengan ‘beribadalah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Akan tetapi, apabila engkau tidak melihat-Nya sesungguhnya Dia melihatmu.’ Ihsan inilah yang merupakan jantung dari agama yang meliputi kebaikan, cinta, kebajikan dan kesempurnaan.

Namun demikian tidaklah mudah bagi manusia untuk menjalankan ketiga dimensi tesebut, khususnya pada dimensi ketiga, ihsan. Karena di dalam diri manusia selalu terjadi peperangan antara Jiwa Kebajikan dengan Hawa Nafsu dan Syahwat. Jiwa Kebajikan cenderung untuk mengabdi kepada Allah, sedangkan hawa nafsu dan syahwat cenderung untuk kepada kehidupan duniawi material saja dan lalai kepada Allah. Memang untuk mempunyai kesadaran ruhani seperti itu bukan hal mudah. Sebuah proses perbaikan harus dilakukan untuk kita meningkatkan jiwa kita mencapai Jiwa Kebajikan. Untuk itu menyadari hakikat diri kita merupakan hal penting dalam membangun kesadaran beragama itu. Jika kita mau mengurai \'dari mana mulai beragama\', ini dapat kita mulai dengan menyadari dalam diri kita (manusia) ada aspek \'lahir\' dan ada aspek \'bathin\'. Aspek lahir adalah tubuh ini, yang apabila ajal telah menjemput akan dikuburkan dalam tanah. Dan akan kembali menjadi tanah. Aspek bathin adalah sang ‘jiwa’, yang pernah bersaksi kepada Allah sebelum kita terlahir (QS 7:172) dan yang kelak akan disiksa di alam kubur apabila menemui ajal dalam keadaan berdosa. Dan yang tetap akan hidup damai bersama jiwa-jiwa para Nabi, Shidiqin,Syuhada dan Shalihin apabila menghampiri ajal dalam keadaan suci bersih.


“Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):\"Bukankah Aku ini Rabbmu\". Mereka menjawab:\"Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi\". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: \"Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb)\". (QS. 7:172)


Jiwa dalam bahasa Arab disebutkan sebagai \'an-Nafs\' bukan \'ar-Ruh\'. Karena antara jiwa dan ruh sesungguhnya ada perbedaan. Ruh manusia berbeda dengan ruh hewan. Apabila Ruh hewan hanyalah berfungsi sebagai nyawa untuk menghidupkan jasad, ruh manusia berfungsi pula sebagai sumber pengetahuan Ilahiah (Ruh Amr).


Ruh manusia merupakan sebahagian Ruh Allah yang ditiupkan ke dalam diri manusia. Karena itu apabila manusia benar-benar dapat merefleksikannya, manusia akan menjadi citra Allah di muka bumi yang ini dalam termilogi Islam sering disebut sebagai Insaan Kamil. Dan jika ini terjadi dalam diri seorang manusia, maka ia disebut sebagai khalifah (wakil atau citra) dari Allah. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS. 32:9)


Keberadaan jiwa manusia itu sendiri berada pada dua pengaruh, yaitu pengaruh Ruh Amr dan pengaruh Jasad. Jiwa yang dipengaruhi Ruh Amr inilah yang merupakan Jiwa Kebajikan. Sedangkan akibat dari pengaruh jasad ini kemudian muncul entitas-entitas hawa nafsu dan syahwat. Hawa nafsu dan syahwat ini adalah kendaraan bagi manusia untuk hidup di dunia, namun sekaligus sebagai batu ujian dari Allah. Seorang manusia tiada akan mungkin dapat hidup di dunia tanpa hawa nafsu dan syahwatnya. Namun manusia yang merelakan diri, segala aktifitasnya didasari oleh hawa nafsu dan syahwat akan semakin menyebabkan jiwanya turun derajatnya, bahkan lebih rendah dari hewan.


“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Ilahnya.Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya dari binatang ternak itu).” (QS. 25:43-44)


“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat).Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran.” (QS. 45:23)


Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.(QS. 7:179) Namun manusia yang mengendalikan dirinya dari hawa nafsu dan syahwatnya, maka sang jiwa akan mengalami proses pensucian atau penyempurnaan. dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketaqwaan, (QS. 91:7-8) Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya). (QS. 79:40-41)


Sedangkan orang-orang yang tiada memperdulikan aspek bathiniahnya, hanya fokus kepada aspek lahiriahnya, akan merelakan seluruh aktifitasnya untuk diatur oleh hawa nafsu dan syahwatnya. Akibatnya tanpa disadarinya, Jiwa Kebajikannya terbelenggu, diperbudak dan dipenjara oleh hawa nafsu dan syahwatnya.


Manakala Jiwa Kebajikan terbelenggu oleh hawa nafsu dan syahwatnya, maka ia akan lupa terhadap apa yang pernah diperjanjikannya kepada Allah sebelum lahir ke muka bumi. Dan apabila ini terus terbawa sampai menghadapi ajal, maka Jiwa Kebajikan akan menanggung penderitaan, karena tidak memenuhi janjinya.


Usaha diri kita untuk mengendalikan diri dari hawa nafsu dan syahwat, inilah merupakan \'gerbang\' dari seluruh proses keagamaan kita. Apabila seseorang mengendalikan diri dari hawa nafsu dan syahwatnya,maka sedikit demi sedikit Jiwa Kebajikan akan terlepas dari belenggu hawa nafsu dan syahwat. Dan sedikit demi sedikit ia akan mengingat \'perjanjiannya\' dengan Sang Rabb sebelum ia dilahirkan ke muka bumi.


Jika kita ibaratkan hawa nafsu dan syahwat itu bagaikan hewan ternak, yang jika tidak dikendalikan akan semakin liar dan sulit diatur. Lihatlah diri kita, apabila kita melakukan sebuah kemaksiatan kemudian mengulanginya lagi, maka akhirnya semakin sulit bagi kita untuk mengendalikannya. Dan akhirnya sulit bagi kita untuk keluar darinya. Seperti sebuah cermin yang bening, jika lama-kelamaan tidak dibersihkan maka akan semakin buram dan tidak akan dapat berfungsi menjadi cermin, karena tidak ada bayangan yang dapat dipantulkan di sana.


Kita harus menyadari bahwa keberadaan hawa nafsu dan syahwat yang ada dalam diri manusia itu, adalah media bagi setan untuk menggoda manusia. Tanpa godaan dari setan sekalipun hawa nafsu dan syahwat telah mencenderungkan manusia kepada keburukan. Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. 12:53). Namun bukan berarti kita harus menghilangkannya sama sekali, hanya saja hawa nafsu itu harus dikendalikan agar kita tidak terjerumus ke dalam kenistaan.


Apabila seseorang berusaha untuk mengendalikan hawa nafsu dan syahwatnya
dengan sungguh-sungguh (mujahadah), maka apabila Allah ridha terhadap upayanya, maka Allah akan menolongnya. Satu demi satu hawa nafsu dan syahwat yang liar, akan menjadi \'jinak\' dan terkendali. Inilah yang disebut di ayat di atas sebagai \'nafsu yang telah diberi rahmat\'. Maka Jiwa Kebajikan akan semakin dapat mengendalikan hawa nafsu dan syahwat-nya ini, menjadi semakin sempurna, menjadi muthmainnah (nafs al muthmainnah). Dan apabila hawa nafsu dan syahwat telah \'jinak dan terkendali\', maka ini akan menjadi kendaraan bagi manusia untuk kembali kepada Allah. “Hai nafs al-muthmainnah. Kembalilah kepada Rabbmu dengan ridha lagi diridhai-Nya.” (QS. 89:27-28)

Read more...

AKIBAT DUSTA

Akibat Dusta



Ada sebuah cerita tentang betapa jeleknya sikap seorang Muslim yang menghina saudaranya yang Muslim. Cerita ini dikisahkan oleh Husein Mazhairi dalam bukunya Jihad an-Nafs. Ada seorang wanita tua pergi menemui dokter. Dia berkata kepada dokter, "Kertas resep yang telah anda berikan kepada saya telah saya rebus dan saya minum, akan tetapi kesehatan saya belum juga pulih." Wanita tua itu tidak mengerti bahwa kertas resep itu harusnya untuk menebus obat di apotik bukannya direbus dan diminumnya.

Dokter itu kemudian berkata kepadanya, "Betapa ruginya roti yang diberikan kepada anda oleh suami anda." Lalu dokter itu pun kembali menuliskan resep, dan menyuruh wanita desa itu pergi ke apotik untuk menebus obat dan menggunakannya, agar penyakitnya sembuh." Kemudian tiba giliran sahabat Husein Mazhairi, sudah tidak ada orang lain selain dia dan dokter. Ia berkata kepada dokter, "Wahai dokter, apa yang anda telah perbuat hari ini?" Dokter itu bertanya, "Apa yang telah saya lakukan?" Ia berkata lagi, "Anda tidak hanya telah melakukan satu dosa, melainkan Anda telah melakukan banyak dosa. Dosa anda yang pertama adalah memperolok seorang Muslim. Dan jika seorang Muslim memperolok seorang Muslim lainnya, serta menjatuhkan harga dirinya, maka dosa yang dilakukannya itu sungguh besar sekali."

Kemudian ia melanjutkan perkataannya, "Adapun dosa yang kedua ialah anda telah menyebabkan orang lain menertawakan dan melecehkan wanita desa itu, sehingga dia merasa malu. Jika anda tidak mengeluarkan kata-kata itu maka orang-orang tidak akan memperolok-olokannya. Adapun dosa anda yang ketiga adalah anda telah berdusta manakala anda mengatakan, 'Betapa ruginya roti yang diberikan kepada anda oleh suami anda.' Perkataan ini adalah dusta. Wanita ini tidak tahu apa yang harus dia lakukan terhadap resep obat. Darimana anda tahu bahwa dia bukan seorang istri dan ibu rumah tangga yang saleh? Dia adalah seorang istri dan ibu rumah tangga yang saleh. Oleh karena itu, perkataan anda yang berbunyi 'Betapa ruginya roti yang diberikan kepada anda oleh suami anda' adalah perkataan dusta."

Dari cerita itu kita dapat melihat betapa perbuatan yang tampaknya kecil ternyata telah mengakibat dosa yang besar. Allah berfirman, "Maka jauhilah olehmu berhala yang najis itu dan jauhilah olehmu perkataan-perkataan dusta." (QS. al-Hajj:30) Hikmah dari cerita ini salah satunya adalah bahwa kita harus mengawasi tingkah laku kita. Inilah yang membedakan antara orang yang bodoh dan yang berakal. Seorang yang berakal adalah orang yang berpikir terlebih dahulu baru kemudian berbicara; sementara orang yang bodoh adalah orang yang berbicara terlebih dahulu baru kemudian berpikir.

Perilaku seorang Muslim dalam bertindak hendaknya dilakukan dengan berpikir dulu baru kemudian berbicara. Misalnya anda adalah seorang guru, dan kemudian anda berbicara di dalam kelas yang mendatangkan musibah. Perkataan yang anda katakan itu bisa menimbulkan kekacauan pada diri seseorang dan mendatangkan berbagai musibah. Perkataan anda itu pada hakikatnya telah membunuh anak-anak murid. Karena, perkataan anda itu telah merusak kepribadiannya yang ini jauh lebih buruk dibandingkan pembunuhan jasmani.

Ada sebuah kisah yang patut kita simak bahwa dengan tidak berdusta akan berdampak pada kebaikan diri. Ketika Syaikh Abdul Kadir, tokoh sufi terkenal, berusia 18 tahun, ia meminta izin kepada ibunya merantau ke Baghdad untuk menuntut ilmu agama. Ibunya tidak menghalangi cita-cita Abdul Kadir meskipun ia keberatan melepaskan anaknya pergi jauh sendirian. Sebelum pergi ibunya berpesan supaya jangan berkata bohong dalam keadaan apapun juga. Ibunya membekalkan uang 40 dirham dan dijahit di dalam pakaian Abdul Kadir. Sesudah itu ibunya melepaskan Abdul kadir pergi bersama-sama satu rombongan yang kebetulan hendak menuju ke Baghdad.

Dalam perjalanan, mereka telah diserang oleh para penyamun. Seluruh harta kafilah tersebut dirampas, tetapi penyamun tidak mengusik Abdul Kadir karena menyangka dia tidak mempunyai apa-apa. Salah seorang perompak bertanya Abdul Kadir apa yang dia punya. Abdul Kadir menerangkan dia ada uang 40 dirham di dalam pakaiannya. Penyamun itu kemudian melaporkan kepada ketuanya. Pakaian Abdul Kadir dipotong dan didapati ada uang sebagaimana yang dikatakannya.

Pimpinan penyamun bertanya kenapa Abdul Kadir berkata benar walaupun diketahui uangnya akan dirampas? Abdul Kadir menerangkan bahwa dia telah berjanji kepada ibunya supaya tidak berbicara bohong walau apa pun yang terjadi. Ketika mendengar Abdul Kadir berbicara begitu, ketua penyamun menangis dan menginsyafi kesalahannya. Sedangkan Abdul Kadir yang kecil tidak mengingkari kata-kata ibunya betapa dia yang telah melanggar perintah Allah sepanjang hidupnya. Pimpinan penyamun bersumpah tidak akan merompak lagi. Dia bertaubat di hadapan Abdul Kadir diikuti oleh pengikut-pengikutnya.

Merebaknya kedustaan dan langkanya kejujuran inilah yang menyebabkan bangsa Indonesia terjerambah dalam mega permasalahan sampai sekarang. Dewasa ini ketidakjujuran dalam beragam bentuknya nyaris dapat ditemui pada semua lapisan masyarakat dan pada semua dimensi kehidupan: politik, sosial, ekonomi, atau pendidikan.

Dalam kehidupan politik para politisi lebih terfokus pada perebutan kekuasaan, terutama menjelang Pemilu 2004 daripada mengembangkan kepedulian untuk bersama-sama memperbaiki situasi negara dan bangsa. Suara lantang mereka saat kampanye pemilu lalu bahwa mereka akan memperjuangkan nasib rakyat belum dibuktikan secara serius dan nyata sampai kini. Pada kehidupan sosial, ketidakjujuran juga telah menjadi gejala fenomenal. Kesepakatan untuk hidup damai antar-etnis, antar-agama, dan sejenisnya lebih merupakan sekadar retorika yang tidak didukung kejujuran dan ketulusan hati. Akibatnya, konflik terus berkembang dan kehidupan kian memanas.

Aspek kehidupan lain, seperti pendidikan dan ekonomi, menunjukkan secara jelas kejujuran belum dijadikan landasan mengembangkan kependidikan atau aspek yang bersifat ekonomi. Pendidikan yang berjalan sejauh ini lebih terkesan formalistik ketimbang sebagai proses transformatif. Pendidikan masih belum mampu mengakomodasi eksistensi manusia seutuhnya. Ekonomi masih bersifat pembangunan kapitalistik yang hanya "membesarkan" sebagian kecil elite bangsa. Pendidikan rakyat atau ekonomi kerakyatan hanya gaung yang belum ada wujudnya. Semua itu mengungkapkan, kebohongan atau kemunafikan telah mendominasi-sampai derajat tertentu-kehidupan bangsa. Sedangkan kejujuran dan sebangsanya kian terpinggirkan dan menjadi barang yang hampir langka bagi "bangsa besar" ini.

Janji-janji muluk para politisi merupakan kedustaan jika mereka tidak menepatinya. Kita sebagai Muslim harus hati-hati di dalam perkataannya dengan berpikir terlebih dahulu, baru kemudian berbicara. Karena jika kita melukai perasaan orang lain maka kita akan kehilangan kecintaan dari hati-hati manusia, dan menjadi orang yang tidak disukai oleh masyarakat.
Di sinilah perang nilai-nilai agama perlu didekati kembali, dipahami, dan diaplikasikan secara utuh. Agama tidak dapat dijadikan sebagai wahana penyelamat manusia di alam eskatalogis semata. Agama perlu dijadikan moralitas kehidupan yang dapat menyelamatkan seluruh umat manusia di dunia dari kehancuran dan kebiadaban. Salah satunya adalah menegakkan sifat kejujuran, yang merupakan buah agama dari nilai-nilai tasawuf yang diajarkan para sufi sejati.
Dalam buku yang sama Husain Mazhairi menceritakan pula sebuah riwayat tentang seorang pemuda yang meninggal dunia. Kemudian jenazahnya dimandikan, dikafankan dan dimakamkan oleh Rasulullah saw. Setelah orang-orang meletakkan jenazah pemuda itu di dalam kubur, ibunya datang ke kuburannya. Lalu ibunya berkata, "Wahai anakku, sebelum ini saya bersedih atas kematianmu. Akan tetapi sekarang, setelah saya menyaksikan Rasulullah saw sendiri yang menguburkan kamu maka saya pun tidak bersedih hati lagi. Ketahuilah olehmu, bahwa kamu adalah orang yang berbahagia."

Ketika mendengar perkataan itu Rasulullah saw tidak mengatakan sepatah kata pun. Setelah itu ibunya pun pulang. Rasulullah berkata, "Sesungguhnya lubang kubur menghimpitnya dengan himpitan yang mematahkan tulang-tulang dadanya." Para sahabat berkata, "Ya Rasulullah, dia adalah seorang pemuda yang baik dan istiqamah." Rasulullah berkata, "Benar, akan tetapi pada dirinya banyak terdapat perkataan yang tidak perlu. Perkataan yang tidak perlu adalah perkataan yang dikatakan oleh seseorang yang mana perkataan itu tidak ada manfaatnya sama sekali, baik di dunia maupun di akhirat. Sesungguhnya hasil pertama yang diperoleh dari perkataan yang seperti ini ialah himpitan kubur. Akan tetapi pengaruh ini adalah pengaruh yang bersifat wadh'i (pengaruh yang diletakkan karena suatu hal).

Ada peribahasa yang terkenal di kalangan masyarakat umum yang mengatakan "Perkataan benar yang tampak seperti perkataan dusta jauh lebih buruk daripada perkataan dusta yang tampak seperti perkataan benar." Tidak demikan, sebenarnya kita harus mengatakan bahwa keduanya itu buruk. Seseorang berkata dusta dengan tujuan supaya manusia membenarkannya. Sungguh ini merupakan perbuatan yang buruk dan merupakan dosa besar. Sekalipun juga seorang suami yang berdusta di hadapan istrinya, atau sebaliknya. Demikian pula manakala seseorang berbicara benar, akan tetapi orang menolak perkataannya. Karena itu dia harus berbicara dalam bentuk yang dapat dipahami oleh akal.

Namun terkadang dalam kenyataan akal kalah dengan otot dan uang. Ini dapat kita lihat di keseharian kehidupan kita. Dalam gedung-gedung terhormat sering terdapat politik dagang sapi, sehingga mereka tidak menempatkan kepentingan masyarakat banyak di atas kepentingan pribadi dan kelompoknya. Sungguh mereka telah berdusta terhadap rakyatnya.
Dalam banyak riwayat dikatakan, sengatan ini (kata-kata yang melukai perasaan orang lain karena berdusta ) akan berubah menjadi kalajengking, ular berbisa dan serigala yang mengigit manusia di alam kubur dan juga di padang Masyhar dan neraka Jahanam. Sebagaimana perkataan Rumi dalam Matsnawi yang berbunyi, " Dengan perantaraan sengatan lidah anda maka anda mempersiapkan serigala-serigala yang akan mengigit anda."

Kita akhiri tulisan ini dengan sebuah doa: Ya Allah, dengan kemuliaan dan keluhuran-Mu, karuniakanlah kepada kami segenap kesadaran, sehingga kami berhati-hati di dalam perkataan kami, niat kami dan tingkah laku kami. Berikanlah taufik kepada kami untuk bisa taat dan beribadah kepada-Mu, serta mampu meninggalkan maksiat terhadap-Mu. Ya Allah, demi kemuliaan dan keluhuran-Mu, tunjukkanlah kami kepada jalan keridhaan-Mu dan cegahlah kami dari segala sesuatu yang mendatangkan kemarahan dan kemurkaan-Mu.

Read more...

MAKNA KESEDIHAN

Makna Kesedihan



Hidup manusia berayun dalam dua keadaan, antara kesedihan dan kebahagiaan. Coba perhatikan lingkungan sekitar kita seperti sahabat kita, tetangga kita atau saudara kita. Mereka akan mengalami hidup yang kadang bahagia dan kadang dilanda kesedihan. Silih berganti seperti perputaran roda, kadang di bawah kadang di atas.


Mengapa kita mengalami kesedihan? Pertanyaan ini sulit dijawab, karena terlalu subyektif, yang setiap orang mempunyai persepsinya masing-masing.. Tetapi secara umum kesedihan merupakan derita jiwa yang dapat timbul akibat hilangnya sesuatu yang kita cintai atau karena kita gagal mendapatkan apa yang kita cari. Sumbernya adalah karena kita terlalu mengagungkan nilai-nilai materi, haus pada nafsu-nafsu badani, lalu merasa rugi kalau salah satu dari itu semua hilang atau gagal kita peroleh.


Misalnya dalam kisah-kisah sejarah para nabi banyak dijumpai para penguasa yang tamak terhadap kehidupan dunia seperti kekuasaan dan harta tidak pernah merasa bahagia. Mereka selalu gelisah dalam menjaga apa yang mereka anggap miliknya itu. Kekhawatiran bangsawan Quraisy akan tergusur pengaruhnya terhadap penduduk Mekkah oleh Nabi Muhammad, dan kecemasan Firaun akan Nabi Musa as merupakan contah bahwa harta dan kekuasaan tidak dapat memberikan ketenangan dan kebahagiaan.


Begitu pula jika kita amati pejabat-pejabat dan orang-orang kaya di negeri ini namun tidak bahagia. Karena di tengah kekayaannya mereka harus menghadapi ‘kerangkeng besi’ dan cemoohan masyarakat. Suasana ini membawa diri mereka ke dalam situasi yang tidak bahagia walaupun di tengah timbunan harta kekayaan. Dengan demikian hanya manusia yang menganggap bahwa segala kesenangan duniawi yang telah diperolehnya bisa kekal dan senantiasa jadi miliknya, maka manusia yang demikian akan sedih dan gundah gulana karena hilangnya sesuatu yang dia cintai atau karena gagalnya ia mendapatkan apa yang dia cari.


Kalau saja manusia tahu siapa dirinya dan tahu bahwa apa saja yang ada di alam itu tidak kekal, niscaya dia tak akan lagi mendambakan dan tidak lagi mencarinya. Kita harus menyadari bahwa dunia materi tidaklah abadi, ia dapat hilang dengan tiba-tiba walaupun kita menjaga dengan hati-hati. Dengan demikian jika kita sudah tidak mendambakannya lagi, maka tak akan lagi dia bersedih hati karena hilangnya apa yang diingini atau gagal diperolehnya apa yang diangankannya di dunia ini. Seharusnya kita mengarahkan upaya ke tujuan-tujuan suci dan hanya mencari kebaikan-kebaikan kekal saja.


Dengan orientasi hidup pada tujuan-tujuan suci itu, maka kita hanya akan mengambilnya sebatas yang diperlukannya untuk menghilangkan rasa lapar, telanjang atau kebutuhan-kebutuhan mendesak lainnya yang serupa. Kita tidak akan menimbun harta. Kita tidak akan berfoya-foya dan berbangga ria. Sekiranya harta itu lepas dari tangan, kita tak akan menyesalinya dan tak akan mempedulikannya. Sungguh jika kita berbuat seperti itu pasti kita akan tenteram, tidak gundah gulana, akan gembira tidak bersedih, akan bahagia tidak sesak dadanya. Barangsiapa tidak menerimanya dan tidak mengobati jiwanya dengan cara ini, dia akan gelisah dan bersedih hati selamanya. Sebab dia tak pernah bisa lolos dari gagalnya memperoleh sesuatu yang dia cari, dan hilangnya sesuatu yang dia cintai.


Barangsiapa dengan berbuat baik ia merasa puas, dan dengan apa yang didapatnya tidak bersedih hati, maka dia akan gembira dan bahagia selamanya. Kalau orang meragukan, bahwa perasaan seperti ini bermanfaat, hendaknya dia merenungkan perasaan orang mengenai tujuan yang mereka upayakan dalam kehidupan mereka, dan amati bagaimana mereka berbeda-beda dalam merespon kehidupan ini berdasarkan keadaan-keadaan dan perasaan-perasaan mereka. Jika kita renungkan maka akan mengungkapkan secara jelas dan terang kehidupan mereka dalam berbagai profesi dan bagaimana perasaan mereka menanggapinya.


Kalau kita perhatikan dengan saksama beragam kelas sosial yang ada. Akan terlihat bahwa kegembiraan seorang pedagang terjadi bila dia berdagang, prajurit bila dia pemberani, penjudi bila dia berjudi, manipulator bila dia manipulasi atau banci dengan kebanciannya. Tiap-tiap orang ini berasumsi bahwa orang yang tidak seperti mereka adalah orang yang tertipu dan tidak merasakan kesenangan yang mereka nikmati. Hal ini karena setiap kelompok sangat merasa bahwa cara hidupnyalah yang benar dan karena sudah lama terbiasa dengan cara hidupnya sendiri.


Demikian pula dengan seorang pencari kebajikan yang menekuni jalur hidupnya sendiri, jika perasaaannya menjadi kuat, dan jika penilainnya tetap baik dan praktiknya terus berkelanjutan dia lebih berhak mengecap kegembiraan dibanding kelas-kelas sosial di atas yang tersesat dalam gelapnya kebodohan mereka sendiri. Dialah seharusnya yang paling bahagia di sisi Sang Maha Pemberi nikmat karena dia benar dan mereka salah, dia yakin dan mereka tidak yakin, dia sehat akalnya dan mereka tidak, dia bahagia mereka sengsara, dia sahabat Allah mereka musuh-musuh-Nya. Allah berfirman: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ditimpa kekhawatiran dan tidak pula mereka bersedih hati.” (QS.10:62)


Al-Kindi (796-873M), seorang filosof awal Muslim, mengungkaplan tentang makna kesedihan yang menimpa pada kebanyakan manusia. Menurutnya, kesedihan yang ditimbulkan oleh manusia dan ditimpakan pada dirinya bukanlah sesuatu yang alami. Kata al-Kindi, “Orang yang bersedih hati karena kehilangan miliknya atau gagal memperoleh sesuatu yang dicarinya, kemudian merenungkan kesedihannya secara filosofis lalu dia mengerti bahwa penyebab kesedihannya itu bukanlah keharusan, lalu dia saksikan banyak orang yang tidak memiliki harta itu tapi mereka tidak sedih, bahkan gembira dan bahagia, dia tak pelak lagi akan tahu bahwa kesedihan bukanlah hal yang niscaya dan tidak alami.”


Ini berarti kesedihan merupakan sikap mental kita menghadapi kondisi lingkungan. Banyak orang yang dirundung kemiskinan tapi hatinya bahagia, sedangkan orang kaya hatinya belum tentu bahagia. Karena kekayaan materi belum tentu membahagiakan ruhani. Ini misalnya dapat kita saksikan orang-orang yang kehilangan anak, saudara maupun teman mereka, hingga terlihat betapa sedihnya mereka? Namun tak lama berselang, mereka pun kembali senang dan tertawa, bahagia, lalu pulih kembali seperti orang yang tak pernah bersedih hati sama sekali?


Begitu pula orang yang kehilangan harta atau benda apa saja yang didambakan manusia, yang bila benda itu hilang dia jadi kecewa dan sedih hati. Orang seperti itu akhirnya gembira, lenyap kesedihannya, lalu bahagia lagi. Kalaulah seorang yang berakal mau mengamati secara cermat kondisi yang kerap terjadi dalam masyarakat banyak di saat mereka sedih, dan mengamati sebab-sebab yang melatarbelakanginya akan terlihat olehnya bahwa musibah tertentu tidak hanya menimpa dirinya saja dan bahwa akhir dari musibahnya adalah kegembiraan. Demikian pula kesedihan adalah penyakit aksidental yang sama buruknya dengan penyakit yang ditimpakan manusia atas dirinya sendiri yang tidak alami seperti penyakit fisik..


Kesadaran akan pentingnya nilai spiritual dibandingkan material ini tumbuh seiring seiring dengan pertumbuhan alamiah jiwa yang dimulai di dalam rahim, ketika Allah meniupkan ruh-Nya sendiri ke dalam tubuh. Ruh ini, yang turun melalui alam Alastu, merupakan cahaya yang murni dan hidup, sedangkan tubuh adalah tanah gelap dan mati. Penyatuan ruh dan raga membangkitkan daya jiwa, yang mencakup dua dunia, spiritual dan material. Jiwa adalah perantara yang melaluinya ruh yang murni dan transenden dihubungkan dengan raga yang fana. Ia adalah jumlah keseluruhan kehidupan dan kesadaran yang muncul pada pertemuan cahaya dan jasad. Hanya jiwa yang lebur ke dalam dunia, namun secara batin terbuka bagi Yang Tak terbatas.


Terbukanya jiwa pada Yang Tak Terbatas akan menumbuhkan sebuah kesadaran spiritual. Kesadaran inilah yang menjadikan manusia mempunyai sikap bijaksana, tidak dengki, kesadaran kemanusiaan dan berorientasi pada yang kekal dan ruhani. Dengan kesadaran seperti ini maka kita seharusnya menyadari bahwa di alam ini tidak ada yang kekal. Janganlah seperti orang yang disodori wewangian yang langka untuk dihirup baunya dan dinikmati keharumannya, tetapi dia mendambakannya dan mengira bahwa wewangian itu diberikan padanya untuk selamanya, sehingga ketika wewangian itu diambil darinya, dia bersedih hati, kecewa dan marah.


Inilah kondisi orang yang mendambakan hal yang mustahil dan orang yang kehilangan akal sehat. Inilah kondisi orang yang dengki, sebab dia ingin menguasai barang-barang dan tak membaginya kepada orang lain dan dengki adalah penyakit terburuk dan kejahatan paling busuk. Oleh sebab itui, para filosof berkata, “Barangsiapa ingin supaya musuhnya ditimpa keburukan, berarti dia penjahat!” yang lebih jahat dari ini adalah orang yang ingin agar kebaikan yang dimiliki teman-temannya sirna, berarti dia menghendaki agar temannya ditimpa keburukan.” Konsekuensi dari keburukan-keburukan ini adalah orang bersedih hati di saat orang lain memperoleh kebaikan, lalu dengki pada mereka karena mereka mendapat kebaikan. Tak soal apakah kebaikan–kebaikan itu berupa milik kita atau bukan milik kita.


Dalam hal ini dibutuhkan sebuah kesadaran akan makna hidup yang melepaskan diri dari jerat-jerat kedengkian dan rasa memiliki kedunian yang terlalu berlebihan. Sebuah kesadaran untuk membangun orientasi hidup yang lebih mengharmonisasikan hubungan antara Allah dan sesama manusia, berupa tujuan-tujuan yang berjiwa kesucian.

Read more...

MANIFESTI ASMAUL HUSNA

Manifestasi Nama-Nama Allah



Dalam prinsip-prinsip ajaran sufi, pendekatan tipikalnya adalah mengembalikan sesuatu kepada Allah. Inilah yang merupakan inti dari ajaran tasawuf yang bersumberkan dari al-Quran. Sebagaimana yang tertera dalam prinsip Islam yang paling utama, yakni prinsip keyakinan dan pemahaman “Tidak ada tuhan kecuali Allah”, ini berarti memandang segala sesuatu sebagai memiliki hubungan yang sangat erat dengan Sumber (Tuhan) mereka.

Pandangan ini, misalnya, dapat kita temui dalam syair-syair ‘Abd al-Rahman Jami (w.1492 M), seorang tokoh sufi terkenal yang menulis tentang eksistensi Allah:


Tetangga, kawan karib, pengembara setia-semuanya adalah Dia.


Di gubuk si Miskin, di peradaban raja- semuanya adalah Dia.


Di pesta perpisahan dan perjumpaan ,


Semuanya adalah Dia, demi Allah- demi Allah, semua adalah Dia!



Dalam syairnya itu, terkesan ungkapan bernuansa panteistik yakni keyakinan bahwa keseluruhan makhluk identik dengan Allah. Namun bagi kaum sufi semacam Jami, memandang seruan semacam itu sebagai ungkapan retorik yang bertujuan menyadarkan jiwa manusia yang lalai agar kembali melupakan bahwa –pada salah satu makna “Semua adalah Dia”- untuk keadaan kita sekarang yang lebih benar ada adalah Dia”.


Pandangan ini berprinsip bahwa segala sesuatu mencerminkan cahaya Tuhan. William C. Chittick mempunyai penjelasan menarik tentang ini. Menurutnya, cara paling sederhana untuk memahami semua ini adalah menganalogikannya dengan matahari dan sinarnya. Matahari berhubungan dengan Allah dalam diri-Nya sendiri (disebut “Dzat” dalam teologi Islam). Spektrum cahaya yang muncul dari matahari berhubungan dengan nama-nama Allah (juga disebut “sifat-sifat-Nya”). Warna dan bentuk yang tampak di dunia dan terjadi karena pantulan cahaya itu merupakan “tanda-tanda” Allah. Sama halnya dengan cahaya yang menerobos masuk ke dalam ruangan merupakan perbuatan matahari, maka demikian pula halnya semua makhluk –sebatang pohon, seekor burung, sungai, gunung – merupakan perbuatan Allah.


Ada sebuah pertanyaan yang mengusik pikiran kita. Bagaimana jika seandainya Allah tidak pernah menciptakan dunia? Nama-nama itu tentu tetap berada dalam lemari perbendaharaan. Tak ada yang bereksistensi kecuali cahaya murni yang membutakan, dengan tak ada satu pun makhluk yang melihatnya dan tak ada yang bisa dilihat. Menurut Ibn Arabi, nama-nama Allah merupakan kemungkinan-kemungkinan kreatif yang tersembunyi di dalam Dzat Allah, yang dalam ayat al-Quran disebut “khazanah”, “Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kamilah khazanahnya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.” (QS. al-Hijr:21)


Kesadaran bahwa wujud alam ini merupakan cermin cahaya-Nya dapat memberikan pencerahan pandangan pada diri manusia. Pencerahan ini meliputi sebuah kesadaran yang menunjukkan kebesaran dan keagungan eksistensi-Nya. Peniadaan selain-Nya merupakan wujud pengakuan akan kerendahan eksistensi kemanusiaan. Di sinilah timbul rasa kekaguman dan merasa rendah pada eksistensi yang Maha Mutlak. Kesadaran akan pandangan ini menimbulkan skap yang jauh dari kesombongan, karena ia sadar bahwa tidak ada eksistensi selain-Nya.


Dalam syairnya, Rumi membandingkan alam semesta dengan arus air yang mengalir, “yang di dalamnya terdapat kilauan sifat-sifat Tuhan Yang Mahakuasa.” Katanya,


Dunia adalahbuih, sifat-sifat Allah adalah samudra-


Buih menghalangimu dari kejernihan samudra!


Demikian pula pemikir sufi termasyhur, Ibn Arabi mempunyai pandangan yang mirip dengan Rumi. Ibn Arabi menjelaskan bahwa “keseluruhan kosmos merupakan wahana manifestasi sifat-sifat Allah.” “Pada hakikatnya,” kata Ibn Arabi, “tak ada yang bereksistensi kecuali nama-nama-Nya.” Pemkiran Ibn Arabi mempunyai nalar yang dapat diurut dengan sangat jelas. Dia mengatakan bahwa segala sesuatu berasal dari Allah, segala sesuatu memanifestasi Allah, segala sesuatu menjadi tanda Allah, segala sesuatu mencerminkan Allah, segala sesuatu itu bukanlah selain-Allah, “Semuanya adalah Dia”. Atau seperti yang dinyatakannya, “Tak ada yang bereksistensi kecuali Allah. Keberadaan kita pun terjadi melalui Dia. Mereka yang bereksistensi melalui sesuatu yang lain pada hakikatnya tidaklah bereksistensi.


Dengan kata lain, penjelasan ini mengatakan bahwa semua makhluk meminjam eksistensi dan sifat-sifatnya dari Allah dan bahwa, pada hakikatnya, mereka “tidak bereksistensi”. Ini dapat kita contohkan, kita dapat melihat bahwa warna dan bentuk yang kita persepsikan di mana-mana tidak lain merupakan eksistensi dan sifat-sifat cahaya. Jika kita mencermati objek-objek, kita cenderung memandangnya sebagai sesuatu yang independen dan ada dengan sendirinya.Akan tetapi, kita mengetahui bahwa yang kita persepsikan hanyalah cahaya- yang telah diberi warna tertentu oleh warna lain yang tidak tampak. Dengan demikian, satu berkas cahaya terlihat oleh kita dalam berbagai warna. Melalui cara serupa, satu-satunya yang kita persepsikan dalam ciptaan hanyalah hakikat Allah. Akan tetapi, jejak-jejak dan isi nama-nama maupun sifat-sifat Allah tampak kepada kita dalam keragaman wujud dan bentuk yang tak terbatas dan semua ini disebut “makhluk”. Seperti yang dinyatakan Jami:


Segala entitas merupakan jendela dengan banyak warna,


Di atasnya jatuh sinaran matahari Wujud.


Entah jendela-jendela itu merah, biru atau kuning,


Matahari tetap menampakkan dirinya berwarna-warni.


Lalu bagaimana manusia dalam hal ini dibandingkan dengan makhluk lainnya yang juga merupakan cermin cahaya-Nya. Allah menciptakan manusia dalam citra-Nya sendiri atau untuk lebih mendekati ungkapan Arabnya, “dari bentuk-Nya. Kaum sufi sering menafsirkan ini sebagai mengandung arti bahwa manusia adalah wadah yang di dalamnya nama-nama Allah mempertontonkan jejaknya sebagai sebuah kesatuan yang integral, seperti halnya alam semesta memanifestasikan esensi nama-nama dalam kilauan cahaya yang berpendar tanpa batas. Perbedaan antara manusia dan makhluk lain adalah bahwa masing-masing kita diciptakan dari bentuk Allah itu sendiri. Karena itu, setidak-tidaknya kita memiliki potensi untuk memamerkan jejak-jejak dan isi semua nama Allah sebagai kesatuan yang koheren dan integral. Makhluklain juga memanifestasikan nama Allah, namun tidak semuanya. Hanya manusia yang memanifestasikan semua mutiara dari Khazanah Tersembunyi, karena itu mereka dapat mengetahui jumlah keseluruhan Perbendaharaan itu.


Karena tercipta menurut bentuk Allah, manusia berpotensi untuk ikut memiliki kesadaran menyeluruh tentang jejak maupun isi nama-nama Allah yang keluasannya tiada terbatas. Al-Quran sering mengungkapkan keherannya kepada orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda di alam semesta maupun diri mereka sendiri, namun mereka tidak menyadari bahwa segala sesuatu diciptakan dalam transformasi dan perubahan, bahwa semua mengarah pada kesadaran utuh tentang hakikat segala sesuatu. Kematian dan kebangkitan adalah dua tahapan lanjut dari pertumbuhan yang berawal di dalam rahim. Allah berfirman: “Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal daging… dan Kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (secara berangsur-angsur) sampailah kamu kepada kedewasaan.” (QS. al-Hajj:5)


Kaum sufi memandang tahapan-tahapan kehidupan fisik sebagai tanda-tanda lahir dari pertumbuhan dan perkembangan jiwa. Rumi terkenal karena deskripsina tentang pertumbuhan jiwa dari suatu tahap yang secara praktikal tidak bernyawa kepada tahap lain yang mengungguli malaikat. Fakta bahwa jiwa naik tahap demi tahap menjelaskan mengapa –meskipun “semua adalah Dia” – tidak ada seorang pun yang benar-benar menyadari hal ini tanpat mencapai kesempurnaan. Selama orang tidak melewati tahapan-tahapan moral dan pertumbuhan spiritual, mereka tetap buta terhadap hakikat diri mereka sendiri.


Manusia dalam melakukan perjalanan spiritual di mulai dari titik nol. Yang dalam tradisi tasawuf, perjalanan menuju kesempurnaan dimulai dalam “ketiadaan” bersama Allah. Ketika manusia mendengar perintah “Jadilah” dan mengakui Allah pada Perjanjian Alastu, mereka turun derajat demi derajat hingga memasuki rahim, yang merupakan tempat paling jauh dari Sumber. Kemudian mereka mulai naik menuju Allah, karena segala sesuatu akan kembali kepada-Nya, seperti halnya segala sesuatu berasal dari-Nya. Kedua perjalanan itu –yakni dari Allah menuju dunia dan dari dunia menuju Allah- sering disebut, menurut Chittick, dua ‘busur’ dari Lingkaran Eksistensi.


Pertumbuhan spiritual manusia dapat dilihat dari perkembangan manusia itu sendiri. Banyak sufi (maupun kalangan filosof Muslim) membandingkan bayi dalam tahapan awalnya dengan objek tak bernyawa atau mineral. Sedikit demi sedikit esensi kehidupan kehidupan dan indra muncul di dalamnya hingga mencapai tahapan tumbuhan. Pada waktu seorang bayi dilahirkan, ia telah menerima semua sifat hewani, meskipun dalam taraf yang tidak sempurna. Begitu masuk masa pubertas, yakni ketika daya tertinggi manusia –kecerdasan dan kemampuan berbicara- mulai memperlihatkan kemungkinan-kemungkinannya, seseorang telah dapat disebut “manusia”, meskipun belum secara utuh. Sebenarnya kita masih belum menjadi manusia seutuhnya kecuali jika kita mencapai kesadaran utuh tentang nama-nama Allah yang ada di dalm diri kita sendiri.


Perjalanan spiritual manusia ini merupakan perjalanan kesempurnaan. Dalam hal ini, manusia memiliki dua kesempurnaan. Pertama, kesempurnaan yang dapat dikatakan bersifat “alamiah” dan membawanya pada kematian fisik, kebangkitan dan pertemuan dengan Allah. “Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” (QS. al-Insyiqaq:6). Kedua, kesempatan yang hanya bisa dicapai melalui usaha sukarela untuk menumbuhkan jiwa. Dari sudut pandang pertama, manusia terpaksa tumbuh dan mati, namun dari sudut pandang kedua, mereka bebas memilih jenis eksistensi apa yang akan mereka rasakan pada tahapan selanjutnya di alam akhirat.


Kebebasan melakukan pilihan eksistensi inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Selama pertumbuhan jiwanya, jejak-jejak nama Allah secara perlahan menampakkan dirinya sendiri. Ini terlihat dengan perubahan dari pandangan dan perbuatan manusia itu. Jadi manusia yang telah tercelup oleh cahaya Allah, akan memberikan eksistensi dirinya untuk Allah (karena memandang dirinya tak berarti di hadapan-Nya), dengan jalan membangun dan menegakkan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan di antara manusia.

Read more...

>> Jumat, 12 Februari 2010

ASAL USUL KATA TASAWWUF

Kita sering mendengar kata Tasawwuf, namun banyak yang belum tahu darimana asal kata tersebut. untuk itu saya akan menguraikannya berdasarkan dari sumber yang saya baca. Kata tasawwuf berasal dari kata-kata seperti di bawah ini:
1. Tasawwuf berasal dari kata "saff" yang maknanya barisan shalat dalam berjama'ah. Alasannya yaitu; seorang sufi itu mempunyai iman yang kuat,jiwa yang bersih dan selalu memilih barisan terdepan dalam shalat berjama'ah. Alasan lain berpendapat bahwa; seorang sufi akan berada dalam barisan terdepan di hadapan Allah SWT.

2. Berasal dari kata "saufanah" yakni sejenis buah-buahan kecil berbulu lebat yang tumbuh di padang pasir arab. Pengambilan kata ini karena melihat orang sufi yang banyak memakai pakaian berbulu dan mereka hidup dalam kegersangan secara fisik, tapi subur dalam batinnya.
3. Berasal dari kata "suffah" yang artinya pelana. yang digunakan sahabat nabi yang miskin sebagai bantal waktu tidur di atas batu di samping masjid nabawi di kota Madinah. VERsi lain mengatakan bahwa suffah artinya suatu kamar yang disediakan nabi Muhammad saw dari golongan Muhajirin yang miskin.penghuni suffah di sebut "ahlisuffah".

4. Berasal dari kata "shifwah" artinya sesuatu yang terbaik atau yang terpilih. Di katakan demikian karena mereka selalu memandang diri mereka yang terbaik dan sebagai orang pilihan.

5. Juga berasal dari kata "shafaa" atau "shafw" yang artinya bersih dan suci. Maksudnya bahwa kehidupan orang sufi lebih banyak di arahkan pada penyucian batin untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. sebab tuhan tidak bisa didekati kecuali oleh orang yang hatinya bersih atau suci.

6. Tasawwuf juga berasal dari kata "sshuuff" yang artinya wol kain bulu yang kasar. di sebut demikian karena orang-orang sufi suka memakai pakaian yang terbuat dari bulu yang kasar (bulu binatang) sebagai lambang kemiskinan dan ksedrhanaan. Berlawanan dengan pakaian sutra yang biasa dipakai oleh golongan yang kaya.

Read more...

SYUKUR

>> Senin, 08 Februari 2010

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Segala bentuk kenikmatan yang diberikan oleh Allah SWT kepada makhluknya akan dipertanyakan nantinya. Bukan hanya kenikmatan dhohir bahkan hati tidak akan luput dari hisab Dzat yang Maha Agung. Oleh karenanya untuk menyikapi segala bentuk kenikmatan yang diberikan oleh Allah SWT, tentunya ada berbagai macam cara dari yang biasa, yakni cukup dengan mengucapkan kalimat tahmid alhamdulillah dengan menggunakan lisan hingga yang mengimplementasikan rasa syukur dengan mencegah seluruh anggota tubuhnya dari maksiat.
Dari sini sedikit akan kita bahas beberapa hal yang menyangkut tentang masalah syukur dan pujian. Di samping sebagai ilmu pengetahuan semoga menjadi amalan akhirat yang nantinya dapat memberatkan timbangan amal kebaikan.

B. Rumusan Masalah
Apa pengertian syukur dan pujian?
Ada berapakah pembagian syukur dan pujian?
Apa hikmah di balik perbuatan syukur dan pujian?


BAB II
PEMBAHASAN
TAHAPAN PUJIAN DAN SYUKUR
1.Pengertian
Syukur dan memuji Allah mempunyai nilai yang sangat besar dan mengandung banyak manfaat. Adapun hakikat syukur, terdapat beberapa pendapat. Menurut satu pendapat syukur adalah memuji (orang) yang memberikan dengan mengingat kebaikannya. Menurut pendapat lain syukur adalah memprhatikan Dzat yang memberikan kenikmatan bukan pada kenikmatannya. Jadi definisi syukur adalah menggunakan Dzat yang memberikan nikmat, untuk mengimbangi nikmat yang diterimanya, sampai pada batas yang membuat tidak di anggap mengingkari nikmat.
Menurut pendapat lain memuji ditujukan pada jiwa , sedang syukur ditujukan pada kenikmatan panca indera. Menurut sebagian ulama memuji adalah permulaan, sedang syukur adalah tebusan. Menurut sebagian yang lain, memuji kepada allah swt ditujukan pada sesuatu yang diberikan, sedang syukur ditujukan pada sesuatu yang dikerjakan.
Dengan demikian, jelaslah perbedaan makna antara keduanya. Kemudian yang di namakan puji adalah pujian bagus yang disertai dengan tindakan yang baik pula. Para ulama membedakan antara puji dan syukur. Mereka berpendapat bahwa puji itu dapat berupa tasih dan tahlil. Maka, puji itu termasuk amal ibadah lahir. Sedangkan syukur adalah sebangsa kesabaran dan kepasrahan. Maka syukur termasuk amal ibadah bathin.
Hakikat syukur ialah engkau mengetahui tidak ada pemberi selain Allah swt. Engkau mengetahui dengan rinci nikmat-nikmat-Nya kepadamu baik yang ada pada jiwa, rasa, dan segala hal yang memenuhi kebutuhan hidupmu, kemudian engkau giat berbuat kebajikan dalam rangka mensyukuri nikmat-Nya.
Nabi Muhammad saw bersabda: “orang yang makan sambil mensyukuri apa yang dimakannya itu setingkat dengan orang puasa yang bersabar.” (H.R. Ibnu Majah)
Suatu ketika nabi Daud as pernah mengatakan “ya tuhan bagaimana saya bersyukur kepada-Mu. Sedangkan syukurku kepada-Mu adalah karena kenikmatan dari-Mu?” Allah menurunkan wahyu kepadanya; “sekarang engkau telah bersyukur kepada-Ku.
Demikian juga yang terjadi pada nabi Musa as ketika bermunajat kepada-Nya; “ya tuhan, Engkau telah menciptakan nabi Adam dengan kekuasaan-Mu dan berbuat ini dan itu, bagaimana tentang syukurku?” Allah swt berfirman; “Adam mengetahui hal-hal itu dari-Ku. Oleh karenanya kemakrifatannya merupakan syukur kepada-Ku.

2.Pembagian Puji Dan Syukur
Pada dasarnya pujian dan syukur terbagi menjadi empat macam. Dua di antaranya yaitu pujian yang bersifat qodim (lama), dan dua bagian lagi bersifat hadats (baru). Adapun pembagianya dalah sebagai berikut:

Pujian Yang Bersifat Qodim
1. Pujian Allah terhadap Dzat-Nya
Sebagaimana di dalam ayata al-Qur’an;
الحمدلله الذى خلق السموات والأرض
2. Pujian Allah terhadap hamba-Nya
نعم العبد انه اواب
Pujian ini diberikan Allah kepada nabi Ayyub a.s. menurut suatu pendapat bersyukurnya Allah swt, berarti memberikan pahala atas perbuatan pelakunya, sebagaimana perbuatan baik Allah adalah memberikan kenikmatan dengan memberikan pertolongan sebagai tanda syukur. Hakikat syukur bagi hamba adalah ucapan lisan dan pengakuannya terhadap kenikmatan yang tekah diberikan.

Pujian Yang Bersifat Hadats (Baru)
1. Pujian hamba-Nya terhadap Allah
Dalam hal ini ada banyak cara yang dapat ditempuh oleh seorang hamba yang mensyukuri terhadap nikmat atau cobaan yang diberikan oleh Alah swt. Syukur terbagi menjadi tiga bagian yaitu; syukur dengan lisan, syukur dengan badan dan syukur dengan hati.
Syukur dengan lisan mengakui kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah swt dengan lisan, dan rendah diri. syukur dengan badan yakni selalu sepakat yakni selalu melayani (mengabdi) kepada Allah swtdalam makna menjauhi segala larangan dan menjalankan segala perintah-nya. Sedangkan syukur dengan hati yakni mengasingkan diri di hadapan Allah swt dengan konsisten menjaga keagungan-Nya.
Syukur dengan lisan adalah syukurnya orang yang berilmu. Syukur dengan badan adalah syukurnya orang yang beribadah. Syukur dengan hati adalah syukurnya orang-orang yang ahli makrifat.
Allah suka dipuji sebagaimana hadith nabi saw;
انّ الله عزّ وجلّ يحب ان يحمد
Dan Allah menjadikan pujian terhadap-Nya sebagai dzikir.

2. Pujian hamba-Nya terhadap hamba yang lain
Dalam hubungan social pujian atau ucapan syukur kepada sesama manusia merupakan salah satu cara menjaga keharmonisan dalam pergaulan. Menurut salah satu pendapat syukur kepada Allah dalam hubungan sesama manusia dapat diterapkan dengan menutupi cacatnya seseorang yang pernah kita lihat ataupun cacatnya seorang teman yang pernah kita dengar, dan sebagainya.
Secara dlohir kita telah menjaga kehormatan sesame manusia, di sisi lain kita telah mempergunakan pemberian Allah berupa panca indra dengan sebaik-baiknya.

3. Hikmah Dan Fadilah Puji Dan Syukur
Beberapa hikmah dari puji dan syukur di antaranya;
- Syukur adalah sebagian dari iman dan separohnya berada di dalam sabar.
- Allah telah menjadikan syukur kunci perkataan ahli jannah.
- Allah tidak akan melakukan adzab pada hamba-Nya yang besyukur pada-Nya. sebagaimana firman allah swt;
ما يفعل الله بعذابكمان شكرتم
- Allah akan menambah nikmat atas hamba-Nya yang bersyukur. Sebagaimana yang tersebut dalam al-qur’an;
لئن شكرتم لأزيدنكم
- Pengaruh dari pujian sendiri akan menumbuhkan rasa syukur. Seperti yang terdapat dalam al-qur’an;
لا يشكر الله من لم يحمده
- Menjadikan benteng atau mengamankan nikmat. Sebagaimana sabda nabi saw;
حمد الله امان للنعمة من زوالها
- Lafadz alhamdulillah terdiri dari 8 huruf sebagaimana pintu surga. Barang siapa yang mengucapkannya dengan ketulusan hati, maka ia berhak masuk surga melalui pintu mana yang ia kehendaki sebagai tanda penghormatan baginya.
- Melapangkan dada dan meringankan beban bagi orang yang tertimpa musibah. Karena dengan syukur dan tetap memuji seseorang akan menyerahkan sepenuhnya urusan kepada Allah.



BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Besar sekali rahasia di balik syukur dan pujian yang tidak mungkin dapat dihitung begitu pula hikmah dan fadilahnya. Oleh karenanya dalam keadaan apapun kita harus tetap bersyukur dan memuji Allah swt baik dalam keadaan duka maupun dalam keadaan suka, terlebih dalam suasana yang sedang bahagia seyogyanya tetap tertanam rasa syukur. Karena pada hakikatnya semua itu adalah pemberian Allah swt kepada hamba-nya sebagai pertanda kita masih diperhatikan oleh-nya. Dan semoga kita termasuk di dalam golongan orang-orang yang ahli bersyukur.

Saran dan Kritik
Kesan sebagai hamba yang penuh dengan kekurangan, salah, dan dosa akan tetap ada pada diri kami selaku manusia biasa. Oleh karenanya kami mohon kepada anda sekalian kritik dan saran yang kiranya dapat membangun dan menjadikan makalah ini lebih baik nantinya.



Read more...

Definisi Raja' dan Khauf

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, karunia, serta inayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah kami dengan lancar. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada nabi kita Muhammad saw yang telah membawa kita dari zaman jahiliyah menuju zaman yang penuh cahaya yaitu agama islam.
Makalah ini kami buat untuk memenuhi tugas mata kuliah tasawuf, tujuannya tidak lain untuk melatih mahasiswa agar dapat membuat karya ilmiah yang baik dan benar.
Ucapan terima kasih kami tujukan kepada:
Bapak H. Abdus Salam Ar,Mm. selaku dosen pengampu mata kuliah
Para dosen Inkafa yang secara tidak langsung telah membekali penulis dalam penyusunan makalah ini.
Kepada semua yang terlibat dalam penulisan makalah ini sehingga dapat terselesaikan dengan baik.
Kami menyadari bahwa makalah kami jauh dari sempurna. Maka dari itu, penulis menghargai kritik dan saran yang konstruktif untuk kesempurnaan makalah kami ini. Akhirnya hanya kepada Allah kami mengharap ridlo agar makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya untuk pemakalah dan para pembaca pada umumnya.




















BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kehidupan manusia di dunia tujuannya tidak lain hanya untuk beribadah kepada Allah swt, sebagaimana telah dijelaskan dalam firman-Nya; “Dan tidak Aku (Allah) ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku (Allah). Maka dari itu wajib bagi kita untuk mendekatkan diri kepada Allah swt yaitu dengan beribadah kepada-Nya. Adapun tata cara beribada telah dicotohkan oleh rasul-Nya Muhammad saw. Adapun hakikat beribadah adalah wushul (sampai) kepada Allah swt. Terdapat tujuh tahapan untuk bisa mencapainya yaitu; tahapan ilmu, tobat, rintangan, godaan, pendorong, penoda dan perusak ibadah, dan tahapan puji dan syukur.
Dalam kesempatan kali ini kami akan mencoba menguraikan tentang tahapan yang kelima yaitu tahapan pendorong yang di dalamnya berisi tentang berharap kepada Allah swt (al-raja’) dan takut kepada-Nya (al-khauf).



B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian al-raja’ dan al-khauf itu?
2. Apa hakikat al-raja’ dan al-khauf itu?
3. Apa dasar dari al-raja’ dan al-khauf itu?







BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Al-Raja’ Dan Al-Khauf
Al-Raja’ (harapan,berharap) adalah ketergantungan hati kepada sesuatu yang dicintai yang akan terjadi di masa yang akan datang. Sebagaimana al-khauf yang berhubungan dengan sesuatu yang akan terjadi di masa yang kan datang. Maka demikian juga dengan al-raja’ akan membawa implikasi terhadap hal yang dicita-citakan di masa yang akan datang. Dengan raja’ maka hati akan menjadi hidup dan merdeka.
Perbedaan antara raja’ dan tamanni (berangan-angan pada sesuatu yang mustahil) adalah terletak pada nilai dan dampaknya. Tamanni dapat mengakibatkan orang menjadi malas dan tidak mau berjerih payah dan sungguh-sungguh. Sedangkan raja’ adalah kebalikan dari tamanni. Raja’ merupakan perbuatan terpuji , sedangkan tamanni adalah merupakan perbuatan tercela.
Menurut Ibnu al-Jalla’, yang di maksud dengan orang yang takut adalah orang yang aman dari berbagai hal yang menakutkan. Menurut satu pendapat, yang di maksud orang yang takut adalah bukan orang yang menangis dan mengusap kedua matanya, tetapi yang meninggalkan sesuatu karena takut siksa.
Abd. Qasim al-Hakim berpendapat; khauf mempunyai dua bentuk, yaitu rahbah dan khassyah. Yang di maksud orang yang rahbah adalah orang yang berlindung kepada Allah swt. Ada yang berpendapat; kata “rahiba” dan “haraba” boleh diungkapkan karena keduanya mempunyai arti satu, seperti kata “jadzaba” dan “jaladza”. Sebagai contoh; apabila “dia” lari. Maka kata “dia” dapat ditarik dalam pengertian hawa nafsunya seperti para pendeta yang mengikuti hawa nafsunya. Oleh karena itu, apabila mereka ditarik oleh kendali ilmu dan mereka melaksanakan kebenaransyari’at, maka pengertian tersebut disebut khassyah.
Allah swt memuji orang-orang mukmin karena ketakutannya. Sebagaimana firman-Nya;
يَخَافُونَ رَبَّهُم مِّن فَوْقِهِمْ
“mereka itu (malaikat) takut kepada tuhan mereka yang di atas mereka”
(q.s. al-nahl; 50)

Di antara ayat-ayat yang menerangkan tentang raja’ di antaranya adalah;
لاَ تَقْنَطُوا مِنْ رَّحْمَةِ اللهِ إِنَّاللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”(Q.S. az-Zumar; 53)
إِنَّ اللهَ بِالنَّاسِ لَرَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
“Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (Q.S. 2 Al Baqarah; 143)


Hakikat Raja’dan Khauf
Raja’ dan khauf menurut ulama’ sufi berarti kembali pada bagian khiwatir, yakni hal-hal yang belum dapat diketahui dengan pasti. Adapun yang dapat di capai seseorang hanyalah muqaddimah (pendahuluannya) saja.
Sedang menurut ulama’ kita. Khauf adalah suatu getaran dalam hati tatkala ada perasaan akan menemui hal-hal yang tidak disukai. Demikian pula khasyyiah (takut).
Perbedaan khauf dan khasyah, bila khasyah diserta perasaan mengagungkan dan kagum, seperti takut kepada Allah. Sedangkan khauf adalah berani atau merasa aman. Tapi sebenarnya lawannya takut adalah berani.
Selanjutnya kata ulama; yang di maksud dengan takut bukan berarti seseorang harus menangis, tetapi orang yang benar-benar takut adalah meningkatkan menjauhi perbuatan yang dilarang oleh Allah swt. Sebagaiman Allah swt berfirman; “tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian orang-orang yang beriman”. Dengan demikian khauf adalah syarat iman, yakni seseorang dikatakan tidak beriman jika tidak takut kepada Allah swt.
Dengan demikian berarti muqaddimah khauf terdiri dari empat hal;
Mengingat segala dosa yang telah diperbuat, serta banyaknya musuh yang membawa pada kedzaliman sedangkan kita tidak dapat lepas darinya.
Mengingat beratnya siksa Allah bagi orang-orang yang durhaka dan kita tidak akan kuat menanggungnya.
Senantiasa sadar akan kelemahan diri dalam menanggung pedihnya siksa.
Selalu ingat kekuasaan Allah terhadap diri kita, Dia (Allah) dapat berbuat apa saja sesuai dengan kehendaknya.
Syekh Sahal mengatakan sempurnanya iman adalah dengan ilmu dan sempurnanya ilmu ini dengan rasa takut. Belum cukup iman seseorang jika tanpa ilmu dan tidak cukup ilmu seseorang jika tidak disertai dengan rasa takut.

Dasar dari Sifat Raja’ dan Khauf
Keharusan seseorang memiliki rasa takut didasarkan atas dua hal;
Agar terhindar dari kemaksiatan, sebab nafsu yang senantiasa mengajak berbuat jahat itu cenderung melakukan hal yang tidak baik. Nafsu tidak akan berhenti berbuat jahat kecuali jika diancam. Cara mengatasi nafsu harus dilecut dan dicambuk sehingga dapat membuatnya jerah dan takut, baik berupa ucapan, tindakan, atau pikiran.
Agar tidak membangga-banggakan amal solehnya (ujub). Sebab jika sampai berbuat ujub maka dapat menimbulkan celaka dan nafsu itu tetap harus dipaksa dengan dicela dan dihinakan mengenai apa yang ada padanya, berupa kejahatan, dosa-dosa dan berbagai macam bahaya lainnya.

Adapun keharusan memiliki rasa raja’ juga dikarenakan dua hal, yaitu;
Agar bersemangat melakukan ketaatan, sebab berbuat baik itu berat dan syaitan selalu mencegahnya. Hawa nafsu selalu mengajak pada perbuatan yang jelek dan tidak baik. Kebanyakan orang memenuhi hawa nafsunya, sedangkan pahala itu tidak kelihatan, dengan demikian tentu nafsu tidak mau dan tidak semangat dalam melakukan kebaikan. Dalam menghadapi hal ini harus dihadapi dengan raja’, yakni rasa mengharap rahmat Allah dan kebaikan pahalanya agar senantiasa bersemangat dalam beribadah dan berbuat baik.
Agar terasa ringan menanggung rasa kesulitandan kesusahan. Karena jika seseorang telah mengetahui sesuatu yang telah menjadi tujuantentu seseorang tersebut akan rela berbuat apapun dan mengeluarkan apapun demi tercapainya tujuan tersebut.
Jadi pokok urusan ibadah itu berkisar pada dua hal, yaitu melakukan taat kepada Allah dan menghentikan perbuatan maksiat. Keduanya tidak akan berjalan dengan baik dan sempurna jika nafsu masih saja menguasai kita dan selalu mengajak kita berbuat kejahatan atau maksiat.
Dengan demikian seseorang harus memiliki rasa takut pada adzab Allah swt yang amat sangat pedih (khauf) dan harapan akan janji-janji Allah (raja’) agar tujuan ibadah kita dapat tecapai dan terasa ringan dalam menghadapi persoalan dan ujian dalam menjalankan ibadah kepada Allah swt. Syaikh al-Hadramy mengatakan bahwa tanda-tanda raja’ itu adalah takut.
Ibnu Khulud membagi raja’ dengan tiga bagian, yaitu;
Seseorang berbuat kebaikan, kemudian berharap agar diterima. Ini raja’ yang benar.
Seseorang yang melakukan keburukan, kemudian bertaubat dan mengharap ampunan Allah. Inipun termasuk raja’.
Seseorang yang selalu bebuat dosa dan enggan bertaubat,kemudian ia berkata; “semoga Allah mengampuniku”. Ini tidak termasuk raja’.
Maka wajib bagi kita menempuh tahapan pendorong ini dengan penuh sungguh-sungguh. Sebab tahapan ini sangat sulit dan banyak mengandung bahaya, dikarenakan berada di antara dua jurang yang menakutkan dan mematikan yaiut, merasa aman dan murka Allah.
Jalan yang paling lurus adalah menghimpun raja’ dan khauf yakni jalan yang ditempuh para wali Allah dan orang-orang pilihan.
Dengan begitu tahapan ini terdiri dari tiga jalan yaitu;
1. Merasa aman dan berani
2. Berputus asa
3. Khauf dan raja’
Jika seseorang terpeleset dari salah satunya maka celakalah dia. Adapun orang yang senantiasa mengingat Allah ia akan aman dari murka Allah.
Maka hendaklah manusia memiliki raja’ dan khauf, mengharapkan rahma dari Allah sebab ibadah kita sangat sedikit sedangkan kita takut akan siksa-Nya karena Allah maha kuasa. Untuk menempuh jalan ini sangat sukar tapi inilah jalan yang benar, paling selamat dan nyata. Jalan ini membawa kita ampunan dan ihsan.












BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari keterangan yang telah kami jelaskan di atas, maka kami dapat menarik benang benang merah bahwa;
- Raja’ adalah ketergantungan hati pada sesuatu yang dicintai yang akan terjadi di masa yang akan datang. Sedangkan khauf adalah meninggalkan sustu hal karena menjauhi siksaan-Nya
- Raja’ dan khauf berarti kembali pada bagian khawatir, yakni hal-hal yang belum dapat diketahui dengan pasti.
- Keharusan seseorang untuk memiliki khauf didasarkan atas dua hal, yaitu; agar terhindar dari kemaksiatan dan agar tidak membangga-banggakan amal sholeh (ujub). Sedangkan keharusan seseeorang memiliki sifat raja’ juga didasarkan atas dua hal yaitu; agar bersenangat dalam melakukan beribadah dan agar terasa ringan menanggung rasa kesusahan dan kesulitan.
Saran dan Kritik
Pemakalah mengharapkan agar apa yang telah dijelaskan di atas dapat dipahami oleh pembaca sekalian, sekaligus bermanfaat bagi kita semua. Selanjutnya, kritik dan saran dari pembaca sangat kami harapkan sebagai pembangun guna memperbaiki dalam pembuatan makalah berikutnya.










DAFTAR PUSTAKA

Al-Ghozaliy.2006. Minhaj al-Abidin. (terj) Syamsil Hasan. Surabaya. Amelia
_________.2007. Muhtashor Ihya’ Ulum al-Din. (terj). Aida Humairah. Jakarta. Sahara Publisher.
Al-Qusyairi, Abu Qasim. 2002. al-Risalah Qusyairiyah fi al-Ilmi al-Tashawuf. (terj) Umar Faruq. Jakarta. Pustaka Amani.

Read more...

About This Blog

Lorem Ipsum


Got My Cursor @ 123Cursors.com

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP